MACHIAVELLINISME VS NEOREALISME

Pemikiran – pemikiran politik Machiavelli merupakan dasar dari tradisi politik realisme modern. Meski begitu, para pemikir neorealisme semakin melupakan bahwa paradigma mereka berasal dari pemikiran Machiavelli. Padahal, seperti yang diargumenkan Markus Fischer dalam artikel ini, doktrin Machiavelli tersebut merupakan pondasi dari perspektif realisme dalam ilmu hubungan internasional. Politik luar negeri memang menjadi pusat dari teori Machiavelli mengenai sifat dasar manusia dan kehidupan politik yang terjadi akibat sifat manusia tersebut.

Dalam pandangan Machiavelli, kehidupan manusia merupakan ”perjuangan untuk mendominasi satu sama lain” (struggle for domination). Hal utama yang paling penting untuk mencapai tujuan itu adalah kekuatan. Pihak yang terbaik akan mendapatkan kekayaan, keagungan, dan kemenangan. Tidak ada obligasi moral yang perlu dipertimbangkan dalam mencapai tujuan ini. Seperti klaim Machiavelli dalam bukunya yang kontroversial, Il Principle, seorang pemimpin, untuk bisa mengatur dan mengantar negaranya menuju kejayaan, harus dapat bertindak melawan agama, kemanusiaan, dan kepercayaannya. Seorang pemimpin harus belajar untuk tidak menjadi baik, ketika memang harus melakukan itu.

Menurut Machiavelli, ada dua sifat dasar manusia yang membentuk kehidupan politik seperti itu, yaitu sifat ambisius dan egois atau sifat pertama, serta sifat untuk bekerja sama atau sifat kedua. Kedua sifat inilah yang akan membentuk unit – unit politik eksklusif seperti negara-kota, kerajaan, dan negara. Kedua sifat ini pula yang akan mendorong unit – unit politik tersebut untuk saling berperang, berekspansi, membentuk aliansi, dan menaklukkan satu sama lain dalam kondisi tidak adanya satu otoritas sentral, sebuah anarki.

Machiavelli mengklaim bahwa negara seharusnya diorganisasikan untuk berperang, dan hal utama yang harus dikembangkan adalah  kekuatan militer. Tujuan utama domestic order, termasuk upaya – upaya mensejahterakan kota – kota dan penduduknya, adalah pengembangan militer.

Institusi asing yang dapat mensubordinasikan unit – unit politik tersebut dalam beberapa kewenangan, menurut Machiavelli, merupakan hal yang sangat sulit terjadi, dikarenakan sifat pertama manusia tersebut. Dia menerima kemungkinan itu hanya bagi negara – negara yang pemimpinnya memiliki sifat kedua sebagai sifat dominan.

Teori Machiavelli tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar pada neorealisme. Melalui teori tersebut, munculnya unit – unit politik eksklusif seperti negara dan pertanyaan – pertanyaan fundamental lain dapat dijelaskan, sebuah hal yang tidak bisa dilakukan oleh para pemikir neorealisme murni. Perbedaan lain yang cukup tajam antara para pemikir neorealisme dan Machiavelli mencakup masalah deterens, balance of power, dan institusi – institusi antar pemerintah.

Secara umum, dapat kita lihat bahwa pandangan – pandangan Machiavelli memang merupakan dasar dari pandangan neorealisme (realisme modern). Seperti yang dikemukakan Viotti dan Kauppi, aktor utama dalam paham realis adalah negara, sedangkan aktor lain seperti perusahaan multinasional dan organisasi transnasional tidak begitu penting[1]. Hal yang sama juga dapat kita simpulkan dari pemikiran Machiavelli. Para pemikir realis juga menempatkan keamanan sebagai prioritas utama masing – masing negara dalam ketiadaannya sebuah otoritas tunggal[2]. Logika yang menjelaskan hal itu dapat dilihat dari filosofi Machiavelli mengenai sifat dasar manusia, yaitu ambisius, egois, dan berusaha mendominasi satu sama lain. Filosofi tersebut berimplikasi pada kondisi kehidupan antar negara yang harus selalu bersiaga untuk perang. Hal ini disimpulkan mengingat negara yang diorganisasikan dari dan untuk memenuhi sifat dasar manusia tersebut. Sebagai akibat dari state of war dan struggle for domination ini pula, Machiavelli menganggap bahwa kekuatan (power) merupakan hal utama yang harus dimiliki masing – masing negara, suatu hal yang dijadikan konsep inti oleh para pemikir realisme modern.

Namun, ada beberapa poin yang menjadi perbedaan penting antara Machiavellinian dan neorealis. Hal pertama yang akan penulis tunjukkan adalah perbedaan mengenai sumber – sumber kekuatan. Seperti yang dijelaskan di atas, Machiavelli menekankan bahwa hal utama yang menjadi modal dalam perjuangan mencapai dominasi adalah kekuatan militer. Segala sesuatu dalam negara diorganisasikan untuk perang, termasuk juga usaha – usaha untuk mensejahterakan masyarakat. Perekonomian tidak dimasukkan sebagai modal utama seperti yang dikemukakan Machiavelli terkait dengan perang Peloponnesia ”…. the counsel and good soldiers of Sparta were worth more than the industry and the money of Athens” (Discourses 2.10.3).  Hal yang berbeda dikemukakan dalam buku yang ditulis Viotti dan Kauppi. Di antara para realis sendiri tidak ada kesepakatan mengenai definisi kekuatan, namun secara umum mereka berpendapat bahwa kekuatan tidak hanya terbatas pada kekuatan militer, termasuk perekonomian, teknologi, maupun kekuatan relatif seperti anggapan segolongan realis.[3]

Perbedaan ini dapat dianalisis dari perbedaan ideologi yang cukup mendasar antara Machiavelli dan neorealis. Machiavelli hidup di abad 14-an, di mana paham Merkantilisme yang menekankan peran negara yang sangat besar dalam perekonomian. Implikasi dari peran negara ini adalah penggunaan kekuatan militer untuk mendominasi negara lain demi mendatangkan kekayaan bagi negara induk sangat mendominasi negara Eropa. Hal utama yang mendatangkan kekayaan bagi negara induk adalah kekuatan militernya yang ditakuti. Neorealisme sendiri muncul di masa kapitalisme berkembang pesat, di mana dominasi di negara lain dilakukan melalui kekuatan ekonomi para pemilik modal, sehingga negara yang didominasi menjadi tergantung oleh negara kapital tersebut. Kapitalisme sendiri sangat bergantung pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan kekuatan militer sendiri akhirnya bergantung juga pada kemampuan ekonomi dan teknologi. Hal ini menyebabkan kekuatan (power) yang penting bukan lagi hanya militer, tapi juga ekonomi, teknologi, dan aspek – aspek lain untuk perjuangan mencapai dominasi di masa modern ini.

Hal ini seperti yang dikemukakan Joseph S. Nye, bahwa sumber – sumber kekuatan tidak pernah statis, melainkan terus berubah sesuai perkembangan zaman.[4] Contoh dari perubahan sumber kekuatan ini, pada abad ke-16, sumber kekuatan Spanyol yang merupakan leading state saat itu adalah kekuatan militer, ikatan kerajaan dan perdagangan kolonial. Hal yang berbeda terlihat pada leading state saat ini, yaitu Amerika Serikat, di mana kekuatannya terletak pada economic scale, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir, budaya yang universal, kekuatan militer, dan nilai – nilai demokrasi dan liberalisme.[5]

Perbedaaan penting lain terletak pada pendapat Machiavelli dan neorealis mengenai dilema keamanan, deterens dan balance of power. Machiavelli menegaskan bahwa suatu kondisi di mana suatu negara tidak akan menyerang negara lain karena kalkulasi kerugian yang didapat melebihi keuntungan yang didapatkan dari serangan tersebut, atau dalam kata lain sebuah deterens, adalah nyaris tidak mungkin. Suatu negara hampir tidak mungkin mengatur kekuatan militernya sedemikian rupa sehingga cukup besar untuk menggertak negara lain agar tidak menyerangnya, namun juga tidak cukup besar untuk disadari sebagai sebuah ancaman. Kalaupun bisa dilakukan, maka hal itu hanya akan membuat negara tersebut menjadi lebih rentan lagi terhadap negara yang semakin kuat di masa mendatang. Hal yang kontras dikemukakan oleh para neorealis. Kenneth Waltz, salah satunya, justru mengemukakan bahwa suatu negara harus mengambil jalan tengah itu, agar tidak dianggap lemah maupun dianggap sebagai suatu ancaman. Menurut Waltz, dalam konteks penggunaan senjata nuklir, suatu negara tidak perlu mengembangkan suatu kekuatan militer konvensional yang sangat besar untuk meyakinkan penyerang bahwa biaya untuk menyerang negara tersebut sangat besar; yang diperlukan adalah untuk meyakinkan penyerang bahwa resiko untuk mendapatkan kehancuran yang besar secara cepat di wilayahnya terlalu beresiko.[6]

Perbedaan ini mengenai masalah deterens ini akan memicu perbedaan pendapat lain yaitu balance of power. Machiavelli berpendapat bahwa di suatu masa pastinya akan ada suatu negara yang akan menjadi sebuah encompassing empire, suatu negara terkuat yang akan mendominasi kehidupan seluruh negara lain pada suatu masa, seperti Romawi pada masanya. Kontras dengan pendapat itu, para neorealis selalu berpendapat bahwa persaingan untuk saling mendominasi dalam sistem internasional selalu akan memicu terjadinya suatu keseimbangan kekuatan, baik dalam bentuk dwipolar maupun multipolar. Konsep balance of power ini dapat diartikan sebagai 3 hal yang berbeda, yaitu distribusi kekuatan, sebuah kebijakan, dan juga sebuah sistem multipolar.[7]

Meskipun  deterens dan  balance of power merupakan 2 konsep yang berbeda, namun kita dapat menganalisis hubungan antara pendapat Machiavellinian dan neorealis mengenai dua masalah ini. Machiavelli, seperti dikatakan di atas, menolak sebuah ”jalan tengah” dengan menjadi tidak terlalu lemah namun juga tidak dianggap sebagai ancaman. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, sebuah state of war yang sangat mendominasi kehidupan, di mana perang tidak terhindarkan, dan yang terkuatlah yang akan mendominasi kehidupan seluruh negara. Ini menjelaskan mengenai adanya encompassing empire yang telah dijelaskan Machiavelli di atas, dengan contoh yang sangat jelas yaitu kerajaan Romawi di masanya.

Logika yang sama juga dapat digunakan untuk menganalisis pendapat neorealis mengenai masalah ini. Menurut neorealis, deterens dimungkinkan untuk dilakukan. Suatu negara tidak akan serta merta menyerang negara lain jika kalkulasi kerugian diperkirakan melebihi hasil yang didapatkan, terutama karena second strike capabilities yang dimiliki negara target. Maka, jika suatu negara meningkatkan kekuatan militernya, negara lain cenderung akan meningkatkan kekuatan militernya juga untuk menyeimbangkan kekuatan dan mengantisipasi serangan di masa depan. Suatu negara juga akan menahan diri melakukan serangan, karena jika dia melakukannya dan memperoleh kemenangan, maka negara lain akan meningkatkan kewaspadaannya terhadap negara tersebut dengan meningkatkan kekuatan milternya sehingga negara tersebut akan lebih rawan diserang di masa mendatang. Kondisi deterens inilah yang akan memicu balance of power, yang bersifat alami sesuai dengan definisi pertama balance of power, yaitu distribusi kekuatan. Selanjutnya, sebagai sebuah strategi, maka masing – masing negara akan mengembangkan balance of power ini sebagai sebuah kebijakan, di antaranya dengan membentuk aliansi atau pakta pertahanan. Contoh dari balance of power ini adalah ketika Inggris membentuk aliansi dengan Prancis untuk menjadi penyeimbang bagi kekuatan Jerman di Eropa yang semakin meningkat pada tahun 1904.[8]

Dapat disimpulkan bahwa pemikiran – pemikiran Machiavelli memang merupakan pondasi yang dapat menjelaskan asumsi asumsi utama realisme modern. Namun, seiring dengan perubahan zaman, ada beberapa konsep dan pemikiran yang harus direvisi lagi, meskipun hal itu tidak menghilangkan dasar – dasar filosofis neorealisme yang diletakkan Machiavellinisme.


[1] Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalim, ed. ke-2 ( ) , 35

[2] Ibid., 36

[3] Ibid., 44

[4] Joseph S. Nye, Jr, Understanding International Conflicts: An Introduction To Theory And History, (HyperCollins College Publishers, 1993) , 53.

[5] Viotti dan Kauppi, op. Cit., 52

[6] James E. Dougherty dan Robert L. Pfaltzgraff, Jr., Contending Theories of International Relations: A Comprehensive Survey, ed. Ke-4 (Longman, 1997) ,  377

[7] Nye, op. cit., 53-56

[8] Ibid., 61

~ by blackswan313 on July 14, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: