Economy For Dummies#1: Trickle Down Effect

Hai Lads! Nampaknya lama banget ya nunggu tulisan kedua gw, kayak nunggu album baru Dashboard Confessional.hehe.

Seri tulisan ini saya sebut “For Dummies”. Kenapa? Karena sasaran dari tulisan ini memang orang awam yang masih alien atau paling tidak belum terlalu mengerti dengan apa yang dibahas di sini. Ini bukan tulisan penuh dengan kata – kata canggih nan tinggi maupun penjabaran ilmiah khas akademisi. Ini cuma sekedar tulisan agar para masyarakat bisa mengenal, paling tidak permukaannya, berbagai istilah dan fenomena dalam bidang ekonomi, politik, budaya, dan militer menyangkut masalah yang kita hadapi sekarang. Tulisan ini dibuat sesimpel mungkin agar ”membumi” (dan juga karena saya ga sanggup bikin yang berat – berat…haha). Kenapa bukan ”For Amateur”? Soalnya buat sekalian promosi rencana temen gw yang mau bikin buku ”Politic For Dummies”.hahaha. Bukannya saya merasa super mengerti dengan berbagai permasalahan yang akan dibahas, namun berbagi pemahaman sedikit tidak ada salahnya, kan?

Di seri ”Economic For Dummies” yang pertama ini, saya ingin menulis tentang Trickle Down Effect (dalam konteksnya dengan pembangunan ekonomi, karena istilah Trickle Down Effect juga ada dalam dunia marketing). Sering mendengar makanan yang satu ini? Meskipun Cuma sekali seumur hidup, saya yakin kalian semua pernah mendengar kata ini. Merasa belum pernah dengar? Coba ingat – ingat lagi, pasti kalian cuma lupa. Kenapa? Karena pada dasarnya pembangunan ekonomi di Indonesia, sejak zaman Orde Baru, berbasiskan pada kebijakan ini.Begitu juga dengan pembangunan ekonomi di banyak negara lain. Apa sih, yang dimaksud dengan Trickle Down Effect ini?

Perumpamaannya begini; misalnya anda berjalan – jalan ke sebuah tebing, dan ketika anda melongok ke bawah, anda melihat ada 3 orang yang terikat di tali dan menempel di tebing, kelelahan dan tidak sanggup meneruskan panjat tebing mereka. Anda berinisiatif menolong mereka, dan anda memutuskan untuk menolong pemanjat yang tertinggi untuk anda tolong terlebih dahulu dan untuk selanjutnya akan berharap bahwa dia akan membantu anda menolong dua orang lainnya. Tolong yang lebih tinggi lebih dulu, dan yang posisinya lebih rendah bisa diangkat nantinya.

Di atas adalah perumpamaannya, dan beginilah penyederhanaan kebijakan Trickle Down Effect: Bayangkan, anda adalah seorang kepala klan dengan tanggungan sekitar 5000 orang. Klan anda secara umum merupakan orang – orang pengangguran miskin, dengan sedikit orang yang memiliki harta lebih dibanding yang lain dan memiliki bisnis yang lumayan, namun lapangan kerja yang dihasilkan belum cukup untuk menyerap seluruh orang di desa tersebut. Kebetulan anda baru diangkat dan memiliki sejumlah emas warisan dari ayah anda, ketua klan yang mangkat. Anda ingin mensejahterakan seluruh anggota klan anda, namun anda merasa bahwa harta yang anda miliki tentunya tidak akan efektif jika harus dipinjamkan (apalagi dibagikan) untuk seluruh anggota klan agar mereka semua dapat memulai sebuah wirausaha, karena jumlah yang diterima warga akan sedikit dan belum tentu para warga akan mampu secara efektif mengelola emas tersebut. Lalu anda berpikir untuk menguatkan bisnis sejumlah orang berkecukupan yang sudah ada agar mereka bisa memperbesar usaha mereka, melakukan ekspansi bisnis, menyerap lebih banyak tenaga kerja dan memicu timbulnya bentuk wirausaha lain. Anda berharap bahwa dengan begitu roda perekonomian dapat berputar lebih kencang. Inilah yang disebut dengan Trickle Down Effect, di mana kenaikan kapasitas atau kemampuan ekonomi orang – orang kaya akan menggulirkan (Trickle Down) peningkatan kesejahteraan pula pada kalangan menengah ke bawah.

Istilah Trickle Down Effect pertama kali dikeluarkan oleh Ronald Reagen dalam suatu pidato pada Januari 1981 di mana dia mengumumkan pemotongan pajak besar – besaran bagi orang – orang kaya, suatu keistimewaan yang dia klaim akan “merembes” ke seluruh rakyat.Dalam ecyclopediaofmarxism.com dijelaskan bahwa “The trickle-down effect is a now-discredited theory of distribution which holds that the concentration of wealth in a few hands benefits the poor as the wealth necessarily “trickles down” to them, mainly through employment generated by the demand for personal services and as a result of investments made by the wealthy.“Kebijakan Trickle Down Effect menempatkan orang berpunya sebagai ujung tanduk pembangunan perekonomian. Kapasitas ekonomi mereka ditingkatkan, dengan memberikan kemudahan pendanaan, membangun sarana dan infrastruktur untuk mendukung bisnis mereka, memberikan kemudahan pajak dan perizinan, dll. Seperti yang ditulis di salah satu blog (maaf ya, lupa nyimpen urlnya, jadi lupa penulisnya,hehe) ” Dengan dibukanya akses dan pendanaan secara menyeluruh terhadap segala aktivistas maka investasi domestik diharapkan akan berjalan dan berlipat dengan semakin gencarnya fokus pada sektor bisnis infrastruktur serta pasar keuangan sehingga pada gilirannya skema ini akan menciptakan sebuah struktur kapasitas produksi yang meningkat. Produksi yang menggeliat akan menggiring harga-harga pada tingkat yang lebih rendah dan menciptakan lapangan kerja untuk para kelas menengah dan menengah kebawah.”

Yap, di atas merupakan konsepsi ideal dari Trickle Down Effect. Jika betul – betul berjalan sesuai dengan konsepsi ideal tersebut, maka seharusnya pembangunan ekonomi yang berjalan dengan mengupayakan Trickle Down Effect tersebut seharusnya bisa membawa kemakmuran. Tapi, mengapa kondisi nyatanya belum seperti itu, seperti yang kita lihat di Indonesia? Mari balik lagi pada perumpamaan di atas: Katakanlah, anda telah berhasil menarik orang paling tinggi dalam panjat tebing tersebut, atau dalam kata lain, orang yang terdekat dengan anda. Harapan anda, setelah dia berhasil ditarik, maka dia akan turut membantu menarik orang yang masih ada di bawah. Namun, ternyata orang itu menolak untuk membantu menarik orang yang ada di bawah, dan malah berleha – leha sendiri. Maka jadilah anda sendiri yang harus menarik orang yang masih ada di bawah. Cukup menyusahkan, bukan?

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam kasus perumpamaan di atas. Setelah anda memberikan berbagai bantuan pinjaman pada orang – orang yang berpunya di desa anda, kaum berpunya tersebut alih – alih turut membangun desanya melalui bisnis mereka, malah berinvestasi di desa sebelah, yang dianggap lebih makmur, prospektif, dan menjanjikan keuntungan lebih. Jadilah orang – orang kaya tersebut semakin kaya, dan orang – orang miskin tetap terpuruk. Pembangunan desa gagal dijalankan.

Nah, sudah cukup mengerti bukan? Kegagalan pembangunan ekonomi yang memanfaatkan Trickle Down Effect berhulu pada kalkulasi untung rugi orang kaya tersebut. Secara alamiah, mereka akan menghindari untuk menanamkan modal pada negara yang kurang makmur dan prospektif, dan lebih cenderung untuk berinvestasi di negara – negara kaya. Jika melihat kondisi perekonomian dalam negeri tidak kondusif, tidak profitable, maka mereka akan mengalihkan kekayaan mereka untuk diinvestasikan di luar negeri.  Tidak tahu terima kasih dan nasionalis? Uang tidak perlu berterima kasih dan tidak mengenal nasionalisme kawan! Ini masih terkait dengan dengan teori dependensi dalam konfigurasi sistem internasional (belum tahu teori dependensi? akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya….)

Di Indonesia, pembangunan yang berusaha memanfaatkan Trickle Down Effect sudah berusaha dilakukan sejak masa Orde Baru. Pada masa OrBa,  haluan politik luar negeri Orde Lama yang revolusioner, anti-imperialisme bersifat sangat konfrontatif diubah menjadi apa yang disebut sebagai “diplomasi pembangunan” yang bersifat kooperatif dengan negara – negara Barat. Tujuan utamanya adalah untuk mencari bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi. Berdasarkan blueprint pembangunan yang dibuat oleh para teknokrat, dan yang juga merupakan resep pembangunan dari berbagai Lembaga bantuan asing, bantuan dana tersebut digunakan untuk memperkuat basis bisnis berbagai perusahaan dan konglomerasi yang sudah ada. Tujuannya, tentu untuk menghasilkan Trickle Down Effect yang sudah dijelaskan di atas.  Namun, meski secara makro kinerja ekonomi kita terlihat sangat impresif, namun pada kenyataannya kesenjangan antara golongan kaya dan golongan miskin semakin meningkat. Kenapa hal ini terjadi? Karena Trickle Down Effect yang diharapkan tidak berlangsung sempurna. Kekayaan golongan berpunya terus mengalir ke luar negeri, dan semakin memperkaya golongan tersebut. Golongan miskin yang mempunyai akses terbatas terhadap modal dan teknologi semakin tertinggal. Vonis umum menyatakan bahwa akar dari segala akar permasalahan adalah korupsi. Korupsi memang amoral, namun bukan dampak secara langsung yang menghancurkan perekonomian, seperti yang diargumenkan dalam blog yang menjadi rujukan saya, “Korupsi memang melanggar batas norma, sebagaimana korupsi memang memuakkan. Premis ini berujung pada kesimpulan bahwa korupsi mengkerdilkan pembangunan. Anggapan ini boleh jadi benar apabila hasil korupsi mengalir keluar negeri, akan tetapi akan beda hasilnya jika harta hasil korupsi diinvetasikan ke dalam negeri. Hal ini sejalan dengan asumsi yang telah dijabarkan panjang lebar diatas mengenai sker ide trickle down effect yaitu investasi domestik.” Hal ini bukan berarti kita menjustifikas korupsi, namun adalah salah apabila usaha untuk meningkatkan perekonomian hanyalah dengan memberantas korupsi.

Karena kekayaan yang semakin mengalir ke golongan berpunya, maka kebijakan Trickle Down Effect dianggap pro status quo, atau menopang sesuatu yang sudah kuat dan berkuasa. Trickle Down Effect banyak diserang, terutama oleh kalangan sosialis dan penganut Post Development, dan dianggap tidak pro rakyat miskin.

Demikian itu adalah sebuah penjelasan sederhana mengenai Trickle Down Effect. Jika dianggap mewakili suatu ideologi ekonomi tertentu, yah, kebebasan anda. Yang jelas, saya tidak dengan ekstrem menganut satu ideologi ekonomi tertentu, hal terpenting adalah seluruh rakyat sejahtera. Trickle Down Effect ini pun mempunyai kelogisannya sendiri. Pokoknya, gitu dah!hehe. See ya at the next series. =D

~ by blackswan313 on July 14, 2009.

One Response to “Economy For Dummies#1: Trickle Down Effect”

  1. wah..mantap banget ulasannya ini. kebetulan saya lagi belajar tentang trickle down effect ini di kampus. Bingung juga cari referensi yang ringan tapi esensinya tetap mengena.
    mmmmm…. mengambil kalimat dari blog ini, yaitu : Uang tidak perlu berterima kasih dan tidak mengenal nasionalisme kawan!, ternyata pada akhirnya memang konsep trickle down effect ini di dalam realita masih jauh dari kondisi ideal yang diharapkannya.
    jadi menurut penulis, apakah ada negara di dunia ini yang benar-benar berhasil menerapkan konsep trickle down effect ini paling tidak sampai mendekati kondisi ideal yang diharapkan itu?
    makasi..nice posting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: