Mari Kembali Jadi Anak Kecil!

haha. berkali – kali bikin blog, lupa mulu buat ngurusin, dan akhirnya lupa passwordnya.semoga yang ini nggak. amin.

Saya ingin mengisi post pertama dengan kenangan masa kecil. Ya!Masa Kecil! Bagi orang dewasa seperti kita, anak kecil hanyalah anak – anak lucu dengan tindakan yang belum rasional.  Dan memang begitu. Tapi, justru ketidakrasionalan ini yang membuat segalanya menjadi indah. Ketidaktahuan, keingintahuan, dua hal ini yang mendominasi masa kecil kita.

Mungkin anda ingat bagaimana rasanya anda pertama kali melihat, bahkan memegang suatu benda biasa, seperti komputer? pernahkah anda merasa terkesima dengan bagaimana pensil bisa menjadi lancip setelah diserut? atauingatkah anda bagimana rasanya pertama kali menggunakan telepon? atau berpikir bahwa “benda yang paling ajaib adalah televisi? Pernahkah anda merasa betul – betul terkesima dengan rintik hujan, dan ingatkah bagaimana perasaan pertama anda ketika pertama kali melihat hujan dengan langit yang masih cerah? Atau masih ingat bagaimana rasanya mengetik pertama kali, diprint, dan anda merasa sangat bangga dengan itu? Atau mungkin masih ingat bagaimana anda melihat presiden di televisi dan dengan mudahnya anda mengatakan “SAYA INGIN MENJADI PRESIDEN!”?Atau mungkin ada yang begitu terobsesinya anda pada suatu tokoh pahlawan super sehingga anda bermimpi untuk menciptakan suatu peralatan yang dapat menjadikan anda sekuat dia, dan kemudian menyelamatkan bumi?

Saya ingat itu semua, sangat ingat. Romantisme masa kecil. Seluruh dunia adalah tempat bermain, karena seluruh dunia adalah sesuatu yang baru. Saya ingat sekali waktu kecil saya sangat doyan bermain ke kantor RW, karena di dekat situ ada sebuah replika kecil sebuah helikopter. Jika ingat betapa terkesimanya saya dulu, dan membandingkannya dengan perasaan datar sekarang, berasa lucu juga. Inilah yang orang biasa sebut perkembangan menuju kedewasaan. Semakin banyak kita tahu, semakin dingin kita menghadapi keajaiban dunia sekitar.

Lucunya juga adalah, semakin banyak kita mengerti tentang dunia, dan semakin kuat kita, maka semakin skeptis kita menghadapi dunia. Semakin kita menyadari batasan – batasan alami yang ada di dunia, dan semakin kita cenderung menyerah karenanya. Misalnya, contoh sederhana, seorang yang cacat diyakini tidak akan bisa mandiri, dan akan selalu tergantung dengan orang lain. Atau zaman dahulu, di mana orang yang mengatakan mengenai perjalanan ke luar angkasa akan dianggap orang gila. And so on, and so on….

Orang menganggap bahwa inilah rasio, kemampuan menentukan apa yang dianggap mungkin dan tidak mungkin dilakukan.  Orang bilang bahwa inilah attribute utama manusia. Pada kenyataannya, persepsi mayarakat secara umumlah yang akan membentuk rasio kita.  Orang yang berusaha melewati batas – batas rasio (yang dianut masyarakat secara umum) ini, seperti yang kita tahu, akan dianggap sebagai orang gila…

Bisa anda bayangkan jika SEMUA manusia dewasa menganut jalan berpikir seperti ini? Tentu saja: peradaban yang stuck. Tidak akan ada perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak akan ada inovasi. Tidak akan ada jalan untuk memecahkan banyak permasalahan manusia.

Beruntunglah kita, di setiap masa, selalu ada orang yang tidak pernah kehilangan rasa keingintahuannya. Mereka orang – orang yang selalu merasa tidak tahu. Mereka tidak terlalu ambil peduli tentang batasan rasio yang dianut umum oleh masyarakat mereka. Mereka tidak takut dianggap aneh. Mulai dari bagaimana mereka menyodorkan sejumlah teori yang mencoba menerangkan banyak hal di dunia, melakukan eksperimen, membentuk kesimpulan, melakukan eksperimen ulang lagi untuk merecheck kesimpulan sebelumnya, dan seterusnya, merupakan proses – proses untuk menembus batasan rasio umum. Dari pengembangan ilmu pengetahuan itu, jadilah masyarakat modern yang terus berkembang.

Ya, jiwa anak kecil yang terdapat dalam diri para ilmuwan. Berkat jiwa inilah, Eropa bisa lepas dari Dark Age dan masuk ke zaman Renaissance. tidak bermimpi menciptakan alat tersebut. Kita masih akan menggunakan obor untuk penerangan jika Thomas Alpha Edison berhenti pada eksperimennya yang ke 9999. Kita masih akan berpikir bahwa bumi pusat alam semesta jika Galileo menyerah pada tekanan banyak pihak yang menyuruhnya untuk tidak membantah dogma yang sudah berlaku umum. Manusia tidak akan pernah mencapai ruang hampa di luar angkasa, apalagi menginjak bulan, jika para ilmuwannya menyerah pada rasio umum bahwa hal semacam itu tidak mungkin dilakukan.  Manusia akan terus dikungkung tiranisme jika tidak ada orang seperti Rousseau yang mengajukan konsep Kontrak Sosial. Tidak akan ada konsep pemerintahan terbatas jika para pemikir Liberal tidak mempertanyakan kewenangan yang seharusnya dipegang negara.  Dan juga sebaliknya, tidak akan ada yang mempertanyakan mengenai penindasan terhadap kaum yang lemah secara modal oleh kaum kapitalis dan peran negara terhadap kesejahteraan rakyatnya jika para pemikir sosialis tidak mempertanyakan tatanan baru yang terbentuk akibat menyebarnya kapitalisme.

Saya sangat setuju dengan suatu kalimat yang mengatakan bahwa Ilmuwan Sejati Adalah Anak Kecil. Jiwa polos dari seorang anak kecil dan ketidaktahuaannya itulah yang membuat dia menjadi seorang ilmuwan sejati. Rasa keingintahuan ini juga yang harus terus dipupuk sampai dewasa. Jangan terlalu cepat menyerah dengan segala keterbatasan. Jangan begitu saja menerima apa yang disebut lingkungan sekitar anda sebagai “akal sehat”. Dobraklah batasan – batasan dunia. Temukan hal – hal baru dan kebijaksanaan baru. Jadilah anak kecil kembali…………

~ by blackswan313 on March 26, 2009.

One Response to “Mari Kembali Jadi Anak Kecil!”

  1. Emang, paling enak anak-anak lah … Mau apa juga enak … Hehehe..

    Bagus2, bos. Teruskan perjuangan. Muantabbbb…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: