Tips menghemat bensin

•July 28, 2010 • Leave a Comment

OTOMOTIFNET – Menghemat biaya pengeluaran di masa krisis saat ini pastinya dapat memberi banyak manfaat. Termasuk di antaranya menghemat biaya pembelian bbm untuk mobil Anda. Dengan menghemat konsumsi bbm, tentu biaya pengeluaran akan semakin rendah.

Bagaimana cara menghemat konsumsi bbm, sekaligus memperpanjang jarak tempuh mobil? Ada banyak faktor yang mempengaruhi konsumsi bbm mobil. Seperti kapasitas mesin, transmisi, bobot kendaraan, dan tekanan ban. Selain itu, tingkat kepadatan lalu lintas, pola mengemudi dan kondisi mobil pun turut memberi pengaruh.

Dalam Big Test Liga Irit 3 ini kami tidak menggunakan pola mengemudi ekonomis, tapi Anda bisa menghemat konsumsi bbm mobil Anda dengan 10 cara ini.

1. Menjaga Putaran Mesin
Umumnya, torsi maksimum mesin berada pada 2.500-3.500 rpm. Lakukan perpindahan gigi pada rentang putaran mesin itu. Jika putaran mesin terlalu tinggi, maka suplai bensin akan makin banyak. Sedang jika terlalu rendah, butuh injakan pedal gas yang lebih dalam untuk menambah kecepatan.

2. Gunakan AC Dengan Bijak
Menggunakan AC memberi beban besar pada mesin yang dapat meningkatkan konsumsi bbm. Non-aktifkan AC jika udara luar cukup untuk menyejukan kabin mobil. Pada cuaca panas, parkirlah mobil di tempat yang teduh. Ketika ingin mengemudi lagi, bukalah semua kaca untuk mengeluarkan udara panas dari kabin. Sehingga dapat mengurangi kerja AC untuk mendinginkan kabin.

3. Hindari Akselerasi Dan Pengereman Mendadak
Berakselerasi atau melaju dengan konstan membuat suplai bahan bakar juga konstan. Akselerasi mendadak dapat membuat ECU memerintahkan untuk menyuplai bensin hingga maksimal. Sedangkan mengerem secara berlebihan memaksa Anda untuk menekan gas lebih dalam untuk memperoleh kecepatan semula. Injak pedal gas dengan halus serta perhitungkan jarak pengereman yang memadai.

4. Cermati Tekanan Dan Keselarasan Ban
Kurangnya tekanan ban jelas berbahaya. Kondisi itu dapat menambah hambatan untuk melaju. Untuk mencapai kecepatan tertentu, mesin bekerja lebih keras ketimbang normal yang membutuhkan lebih banyak bbm. Juga dapat meningkatkan keausan ban yang tidak merata. Keselerasan ban, keausan bearing roda dan rem yang menyangkut dapat menambah konsumsi bbm 10%.

5. Servis Mobil Secara Berkala
Saringan udara dan oli kotor, busi yang sudah aus, oli mesin lama tidak diganti, knalpot bocor dan masalah pada sistem kontrol emisi dapat meningkatkan konsumsi bbm. Lakukan servis berkala untuk mengurangi hambatan ini. Lebih baik lagi jika servis itu dilakukan sebelum mencapai jarak tempuh yang telah ditentukan.

6. Pakai BBM Dengan Oktan Sesuai
Banyak mesin mobil yang dapat bekerja baik dengan bahan bakar bernilai oktan yang lebih rendah dari rekomendasi pabrik. Kecuali jika terdengar knocking. Tapi performa mesin maupun konsumsi bbm akan membaik saat menggunakan bbm dengan oktan sesuai rekomendasi pabrikan.

7. Kurangi Beban
Jangan gunakan bagasi mobil sebagai lemari kedua Anda. Atau Anda selalu membawa banyak barang dan aksesori berat yang tidak dibutuhkan pada perjalanan Anda hari itu. Penambahan beban ini membuat mesin bekerja lebih berat dari kondisi normal. Pasalnya, Anda harus menginjak pedal gas lebih dalam untuk memperoleh kecepatan.

8. Hindari Macet
Kondisi stop and go begitu cepat mengurangi isi tangki bbm mobil Anda. Sebisa mungkin hindari jam-jam sibuk untuk menghindari macet. Hindari pula membiarkan mesin idle untuk waktu yang lama, seperti menyalakan mesin ketika menunggu. Karena kondisi itu membutuhkan lebih banyak bbm ketimbang mematikan dan menyalakan mesin lagi.

9. Rencanakan Rute Perjalanan
Menentukan rute perjalanan yang efektif dan terhindar dari macet memang membutuhkan pengalaman Anda. Hindari jalan macet yang pernah Anda lewati di waktu lampau. Menggunakan peta dan GPS akan memudahkan Anda menentukan rute perjalanan. Jika ingin singgah beberapa kali, upayakan agar rutenya tetap satu poros.

10. Mengemudi Smart
Mengurangi kecepatan yang biasa Anda gunakan dapat menghemat bbm. Melaju pada kecepatan 100 km/jam menggunakan bbm sekitar 15% lebih banyak ketimbang melaju pada 80 km/jam. Menggunakan fitur cruise control di jalan bebas hambatan atau mengaktifkan overdrive untuk transmisi otomatis, membuat ECU mesin memerintahkan suplai bbm pada mode ekonomis.

Selain itu, untuk menghemat bensin dan juga menjaga kondisi mesin serta mengurangi polusi, anda dapat menggunakan zat aditif untuk ditambahkan ke bensin anda. Contohnya seperti Automax Nanotech Fuel Enhancer . Cairan aditif yang dibuat dengan teknologi nano mutakhir ini terpilih sebagai zat aditif BBM yang paling efektif dan ekonomis untuk ikut melestarikan sumber energi dan menghilangkan polusi udara akibat transportasi di Asia oleh PBB pada tahun 1994, serta merupakan produk terlaris di Jepang sejak 1997, serta banyak prestasi lainnya yang susah disebutkan semua (lebih lengkapnya lihat http://www.h2oil.com).  Produk ini dapat menghemat BBM hingga 28%, meningkatkan kinerja mesin hingga 20%, mengurangi polusi berbahaya hingga  98%, memperpanjang usia mesin, dan melindungi lingkungan.

Di pasaran, NFE dijual dalam 2 kemasan, ukuran kecil (20 ml, cocok untuk motor) dan ukuran besar (120 ml, cocok untuk mobil). 5 tetes atau 1 ml dapat digunakan untuk 5 L bensin. Lalu bagaimana dampak penghematannya? Biasanya masyarakat kita malas membeli barang seperti ini karena tidak mau mengeluarkan uang untuk membelinya. Padahal, jika kita coba hitung-hitung:

Dengan tingkat penghematan rata-rata sebesar 15%, dalam penggunaan BBM hingga 100 L maka anda dapat menghemat sebesar:

100LX15%=15 L

Jika dikalikan dengan harga bensin premium per liternya saat ini, maka anda akan menghemat uang sebanyak

Rp.4500X15=Rp. 67.500. Sangat tinggi bukan?! Belum lagi dengan mesin yang semakin awet dan meningkat kinerjanya, jika dikalkulasi secara ekonomis maka keuntungan yang kita dapat sangat besar, jauh melebihi harga NFE sendiri yang hanya sebesar Rp. 25.000 untuk ukuran 20 Ml. Selain itu, kita juga berontribusi besar terhadap lingkungan. ^^

Jadi, saran saya, anda dapat sangat mempertimbangkan untuk menggunakan zat aditif BBM seperti NFE agar untung buat anda sendiri dan untuk lingkungan, Cheers!

IGGI: Sebuah Keberhasilan Diplomasi dan Jebakan Dependensi

•July 14, 2009 • Leave a Comment

Pergantian kekuasaan dari rezim Orde Lama yang dipimpin Soekarno menuju rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto memberikan perubahan yang cukup mendasar dalam sifat diplomasi Indonesia. Soekarno dengan haluan politik luar negeri yang revolusioner dan anti-imperialisme bersifat sangat konfrontatif. Indonesia pada masa kepemimpinan Soekarno memperlihatkan sifat – sifat militan dan cenderung konfrontatif terhadap segala unsur yang diidentifikasi sebagai ”antek imperialisme”. Dalam hal ekonomi, Soekarno mengatur segala rencana pembangunan ekonomi dan memiliki semboyan ”berdiri di atas kaki sendiri” yang merefleksikan pendirian anti-Barat.  Karena inilah, secara umum hubungan Indonesia dengan negara – negara Barat bisa dikatakan tidak harmonis.

Sebaliknya, setelah memasuki rezim Orde Baru, sifat politik luar negeri Indonesia yang konfrontatif tersebut berganti dengan politik yang bersifat kooperatif. Indonesia yang selama masa Demokrasi Terpimpin memiliki hubungan yang kurang baik dengan negara – negara Barat mulai memperbaiki hubungan tersebut sesudah memasuki rezim Orde Baru. Hal ini dilakukan terutama karena orientasi politik luar negeri Indonesia berubah haluan menjadi pembangunan ekonomi dalam negeri melalui kerja sama dengan negara – negara lain. Hal ini terjadi karena pemerintah Orde Baru menyadari bahwa untuk melakukan pembangunan Ekonomi, Indonesia membutuhkan dana, sedangkan Indonesia yang baru merdeka memiliki kekurangan dana yang sangat besar untuk melakukan pembangunan tersebut. Kerja sama dengan negara – negara lain ini dibuka untuk mendapatkan bantuan luar negeri demi melaksanakan pembangunan ekonomi dalam negeri.  Diplomasi yang dilakukan oleh Orde Baru banyak disebut sebagai ”Diplomasi Pembangunan” (Diplomacy For Development). Salah satu hasil diplomasi pembangunan Orde Baru terkait dengan upaya untuk mendapatkan bantuan luar negeri adalah Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI/Kelompok Antarpemerintah Mengenai Indonesia).

Usaha untuk membentuk IGGI tersebut mulai dilakukan pada bulan September 1966 dalam pertemuan antara 12 negara kreditor yang dilaksanakan di Tokyo untuk mengetahui rencana Indonesia dalam memperbaiki keadaan ekonomi dan evaluasi IMF akan rencana tersebut. Dalam forum ini, Indonesia berhasil menggalang dukungan dan menegosiasikan utangnya kepada para kreditur dalam forum Paris Club dan dirasakan perlunya forum antar pemerintah untuk membantu pembangunan di Indonesia, baik berupa dana maupun pemikiran. Kesepakatan untuk membentuk sebuah forum formal dalam rangka membantu perekonomian Indonesia dicapai pada pertemuan ini. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah keberhasilan diplomasi pembangunan waktu itu. Pada tanggal 20 Februari 1967, IGGI dibentuk melalui pertemuan formal di Amsterdam yang dihadiri oleh sejumlah negara kreditor utama dan lembaga Internasional.

Sejak pendiriannya pada tahun 1967, IGGI memainkan peran yang krusial dalam mengatur tanggapan komunitas keuangan internasional terhadap krisis finansial yang dihadapi Indonesia. IGGI menrupakan forum Internasional yang menjadi perantara koordinasi antara Indonesia dan bank – bank Internasional dalam hal ide – ide pembangunan dan program bantuan keuangan.

Diplomasi pembangunan Indonesia pada masa awal Orde Baru tersebut dapat dikatakan berhasil dalam memperoleh bantuan luar negeri. Hal ini sesuai dengan tujuan dari diplomasi ekonomi, yaitu mengamankan resources ekonomi yang berasal dari luar negeri untuk pembangunan ekonomi luar negeri. Dalam hal ini, resources ekonomi utama yang berusaha diamankan adalah bantuan luar negeri yang berasal dari negara – negara maju.

Namun, jika kita lihat kembali kondisi dunia pada masa terbentuknya IGGI, maka dapat kita lihat kepentingan para negara kreditor tersebut dalam terbentuknya IGGI. Penulis setuju dengan pendapat Zainuddin Djafar dalam Rethinking the Indonesian Crisis, yaitu adanya kepentingan negara Barat untuk membendung pengaruh komunisme. Seperti yang kita tahu, pada masa itu, dunia sedang berada dalam era Perang Dingin. Pembentukan IGGI ini dapat kita anggap sebagai pelaksanaan dari teori containment untuk mencegah Indonesia kembali memihak blok Timur seperti pada masa Demokrasi Terpimpin. Indonesia dinilai sebagai sebuah negara yang sangat strategis dalam pelaksanaan teori containment ini karena merupakan negara Asia Tenggara yang cukup terkemuka. Karena itu, penanaman pengaruh blok Barat pada Indonesia dinilai sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan pengaruh blok Barat di kawasan Asia Tenggara.

Masuknya bantuan luar negeri tersebut juga bertujuan untuk mengendalikan berbagai kebijakan dalam negeri Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mengamankan kepentingan para negara kreditor tersebut di Indonesia, terutama kepentingan ekonomi. Sesuai dengan perspektif realis yang menyatakan bahwa pemberian bantuan luar negeri pada dasarnya dilakukan atas dasar kepentingan negara pemberi bantuan tersebut. Selalu ada kepentingan yang melatarbelakangi pemberian bantuan. Sebagai contoh yang sangat jelas, dalam sebuah wawancara yang dilakukan John Spilger terhadap Nicholas Stern sebagai pimpinan ekonom Bank Dunia, terungkap bahwa meskipun World Bank dan negara kreditor memberi pinjaman 100%, namun sebenarnya sebagian besar uang tersebut digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi negara kreditor dan hanya sekitar separuh uang pinjaman tersebut yang benar-benar masuk ke negara miskin tersebut.

Pemberian bantuan dengan tujuan seperti ini membuat Indonesia terjebak dalam kondisi dependensi. Indonesia menjadi sangat tergantung dengan bantuan asing tersebut, yang terlihat dari dimasukkannya hutang luar negeri dalam daftar sumber dana APBN. Ketergantungan terhadap sumber pendanaan asing ini memungkinkan intervensi pihak asing terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Dengan begitu, lewat bantuan luar negeri, maka negara – negara Barat dapat mengontrol kehidupan politik dan ekonomi dalam negeri. Hal ini terlihat dari penguasaan pihak asing terhadap sumber daya alam di Indonesia, kemudahan masuknya barang impor dari negara – negara Barat, dan berbagai kebijakan Pemerintah yang selalu memihak terhadap perusahaan asing jika terjadi konflik antara buruh lokal dan perusahaan asing tersebut. Indonesia dalam hal ini berada dalam posisi sebagai negara perifer yang selalu bergantung pada negara – negara sentral. Indonesia diposisikan sebagai pemasok tenaga kerja yang murah serta bahan mentah dalam pembagian kerja global tersebut.

Kondisi dependensia ini menjadi sebuah ”bom waktu” bagi Indonesia. Terbukti, setelah Perang Dingin berakhir dan nilai strategis Indonesia dalam teori containment hilang, maka berbagai akses terhadap sumber pendanaan luar negeri tersebut menjadi sulit. Stabilitas ekonomi dan politik dalam negeri menjadi terganggu dan akhirnya berpuncak pada terjadinya Krisis Moneter tahun 1998. Pihak asing pun telah menguasai banyak sumber daya strategis dalam negeri melalui berbagai perusahaan multinasional.

Meski begitu, di luar berbagai efek negatif yang disebabkan oleh bantuan luar negeri yang masuk ke Indonesia, terbentuknya IGGI tetap dapat dilihat sebagai keberhasilan diplomasi pembangunan pertama Indonesia, karena merupakan bentuk kepercayaan luar negeri yang dilembagakan.

Sebagai kesimpulan, pergantian rezim membawa perubahan pada orientasi politik Indonesia dari politik revolusioner menjadi pembangunan kembali ekonomi dalam negeri dan pemulihan hubungan dengan negara-negara luar. Terbentuknya IGGI merupakan hasil dari diplomasi pembangunan pertama Indonesia. Bantuan luar negeri yang diterima dari IGGI tersebut membawa Indonesia pada kondisi dependensia atau ketergantungan terhadap pendanaan luar negeri tersebut dan ketidakmandirian dalm penentuan kebijakan dalam negeri. Meski begitu, pembentukan IGGI ini tetap dapat dilihat sebagai keberhasilan pertama dari diplomasi pembangunan dalam mencapai sasarannya, yaitu mendapatkan mendapatkan bantuan luar negeri untuk membiayai pembangunan ekonomi di Indonesia.

EKONOMI INTERNASIONAL: ANTARA KERJA SAMA DAN PERSAINGAN

•July 14, 2009 • 1 Comment

Hubungan antara kemampuan ekonomi dan kekuatan merupakan kenyataan lama yang baru disadari. Ekonomi, meski terus disadari sebagai sebuah elemen kekuatan, namun seringkali ditempatkan pada prioritas kedua maupun ketiga suatu negara. Setidaknya hal itu terlihat hingga masa pasca Perang Dunia II, seperti yang dijelaskan Daniel S. Papp dalam bukunya. Beberapa hal dalam tatanan dunia internasional yang terbentuk setelah PD II menjadi hal utama yang menyebabkan hal itu. Namun, sejak awal tahun 1990-an, ekonomi sebagai suatu elemen kekuatan, mulai ditempatkan sebagai prioritas utama oleh sebagian besar aktor internasional. Hal tersebut disebabkan dinamika dan perubahan yang terjadi dalam dunia internasional yang menunjukkan pentingnya kemampuan ekonomi, yaitu berakhirnya dominasi AS dalam perekonomian global diiringi meningkatnya kemampuan ekonomi sejumlah negara, jatuhnya US, dan meningkatnya daya tawar negara – negara yang kaya akan minyak.

Terdapat lima level untuk melakukan pendekatan analisis bagaimana aktor – aktor internasional terlibat dalam sistem ekonomi internasional, yaitu kemampuan ekonomi internal dari suatu aktor yang akan menentukan seberapa kuat aktor tersebut dalam persaingan internasional yang akhirnya akan menentukan seberapa jauh aktor tersebut terlibat dalam sistem ekonomi internasional, perdagangan internasional yang semakin mengarah pada perdagangan bebas dengan teori comparative advantages oleh David Ricardo dan segala bentuk resistensi berkaitan dengan perdagangan bebas tersebut, kebijakan moneter internasional mengenai nilai pertukaran mata uang antar negara (fixed exchange rate maupun floating exchange rate), ranah finansial internasional mengenai mobilitas uang antar negara untuk tujuan investasi, perdagangan, dan akumulasi kapital (modal) di mana kebanyakan bagian dunia sudah menjadi satu pasar finansial yang terintegrasi, dan ketiga subsistem ekonomi global (subsistem fungsi antar negara – negara maju, antara negara – negara maju dan negara – negara berkembang, dan antar negara berkembang).

Lebih lanjut, Papp juga menjelaskan mengenai dinamika sistem ekonomi internasional pasca PD II. Dimulai dari dibentuknya sistem Bretton Woods untuk membentuk struktur finansial internasional yang didasarkan pada nilai tukar yang tetap (fixed exchange rates) dan organisasi yang menyertainya (IMF dan IBRD), krisis yang dialami sistem Bretton Woods karena defisit belance-of-payment besar – besaran yang dialami Eropa sehingga AS melakukan langkah – langkah intervensi dengan menciptakan defisit pada balance-of-payment AS sendiri sehingga semakin banyak mata uang dolar yang berada di luar negeri, melemahnya sistem Bretton Woods karena membanjirnya dollar AS di luar negeri dan cadangan emas AS sendiri sudah sangat menipis sehingga memicu penukaran dollar menjadi emas secara besar – besaran, kebijakan lanjutan AS yang membuat dollar AS menjadi inkonvertibel terhadap emas dan melambungnya harga minyak melalui kebijakan OPEC pada tahun 1973, serta sifat anarki dan interdependensi dalam penentuan nilai tukar, mobilitas kapital, perdagangan, dan hubungan antara negara – negara berkembang dan negara – negara maju. Dinamika yang terjadi inilah yang akhirnya membuat ekonomi menjadi prioritas utama sebagai power.

Sistem ekonomi yang terjadi saat ini lebih bersifat interdependen. Sifat anarki yang ada perlahan – lahan berusaha dikikis untuk mengembangkan sistem ekonomi internasional secara keseluruhan, seperti yang diargumenkan Papp. Sistem ekonomi baru ditandai dengan meningkatnya area – area perdagangan bebas, munculnya WTO yang dimaksudkan untuk mengurangi proteksionisme, kelanjutan pertemuan G-7, dan munculnya negara – negara industri baru (Newly industrializing countries/ NICs) dan negara – negara yang berpotensi menjadi pasar besar AS (big emerging markets/ BEMs).

Ada beberapa poin yang harus diamati mengenai perdagangan bebas dan interdependensi. Teori comparative advamtages dari David Ricardo menjadi dasar ideal dari perdagangan bebas, di mana suatu negara harus menciptakan suatu produk yang dibutuhkan negara lain, dan negara lain memproduksi hal yang dibutuhkan negara itu, sehingga negara – negara tersebut menjadi saling membutuhkan satu sama lain. Papp menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa kelompok yang mendukung perdagangan bebas berargumen bahwa perdagangan bebas akan meningkatkan mutual dpendence yang akan menuntun pada interdepedensi.  Hal ini, menurut mereka, akan menuntun pada harmoni dan perdamaian, karena masing – masing negara akan menahan diri untuk melakukan sesuatu, terutama intervensi militer, yang bisa mebuat mereka kehilangan akses pada resource yang mereka butuhkan dari negara lain yang biasa mereka peropleh melalui perdagangan internasional. R.J. Barry Jones menerangkan dalam bukunya bahwa ”interdependence exists for a set of two or more actors when each is dependent upon one other member of that set for satisfactory outcomes on any issue(s) of concern”.[1] Interdependensi merupakan ketergantungan yang timbal balik, A membutuhkan B, dan B membutuhkan A. Dalam ekonomi internasional, interdependensi ini mudah dilihat dari ketergantungan suatu negara terhadap produk atau resource dari negara lain untuk kegiatan perekonomiannya sendiri.

Proposisi demikian (perdagangan bebas akan mewujudkan interdependensi) juga disebutkan sebagai pembelaan kaum liberalis klasik terhadap perdagangan bebas dalam buku Jones tersebut. Menurut mereka, bukan hanya efisiensi yang dapat diperoleh dari pasar internasional, namun juga sebuah kesempatan untuk menstimulasi sebuah level interdependensi dalam perekonomian yang baru dan dapat mempromosikan sebuah kepentingan mutual.[2] Suatu kondisi di mana perdagangan dapat dengan bebas dilakukan akan memperkuat integrasi ekonomi antar negara tersebut menjadi suatu pasar yang besar. Perdagangan bebas ini, hanya dapat dilakukan dengan meminimalisir intervensi negara pada pasar, yang biasa dilakukan dengan berbagai kebijakan proteksionis dan tarif. Para pembela pasar bebas berpendapat bahwa kebijakan – kebijakan seperti ini harus dikurangi, bahkan dihilangkan.

Hal ini tentunya akan memiliki suatu implikasi politis. Keadaan di mana tingkat interdependensi antar negara yang cukup besar tentunya, dalam batasan – batasan tertentu, akan menurunkan tingkat kedaulatan (sovereignty) negara – negara tersebut. Menurunnya tingkat kedaulatan itu ditandai dengan pengambilan keputusan masing – masing negara besar kemungkinannya dipengaruhi atau diintervensi oleh situasi hubungan antar negara tersebut, diplomasi yang dilakukan negara lain yang berperan sebagai trading partner, dan kebijakan domestik negara lain. Menurunnya tingkat kedaulatan ini dapat meredakan ketegangan yang berlangsung di antara negara – negara tersebut karena kepentingan – kepentingan menyangkut negara – negara tersebut mendorong mereka berkompromi. Dependensi substansial kepada satu atau lebih negara diidentifikasi sebagai determinan utama untuk kebijakan luar negeri bagi negara yang ”dependent.[3] Patut dicatat di sini bahwa penggunaan kata ”dependensi” merujuk pada efek interdependensi pada salah satu negara.

Namun, muncul pertanyaan kritis lain mengenai interdependensi yang terbentuk karena perdagangan bebas ini, yaitu apakah yang sebetulnya terbentuk, interdependensi atau dependensi? Kedua hal tersebut berbeda satu sama lain. Dependensi merujuk pada  suatu keadaan di mana outcome yang ingin dicapai secara signifikan di suatu tempat membutuhkan suatu kondisi atau perkembangan di tempat lain.[4] Perbedaan utama antara dependensi dan interdependensi terletak pada sifat hubungannya. Dependensi lebih bersifat hubungan satu arah, sedangkan interdependensi bersifat timbal balik. Secara teoritis, dependensi dan interdependensi mudah dibedakan. Namun secara praktikal, penggolongan hubungan timbal balik antar negara sebagai suatu hubungan interdependen maupun dependen sulit dilakukan. Hubungan antara negara – negara berkembang dan negara – negara industri maju dalam dunia nyata banyak dibahas melalui teori dependensi.

Teori dependensi mengatakan bahwa kondisi yang dialami negara – negara yang kurang berkembang, atau sering juga disebut sebagai negara – negara selatan, merupakan dependesi struktural.[5] Hal ini dilihat dari posisi yang berbeda antara negara – negara selatan dan utara dalam kegiatan perekonomian. Dalam hal perdagangan, terjadi ketidakseimbangan antara kedua kelompok tersebut. Negara – negara selatan merupakan negara yang hampir selalu mengalami defisit balance-of-trade, di mana jumlah ekspor sangat sedikit, dan jumlah impor dari negara – negara utara sangat besar, dan begitu pula sebaliknya. Negara – negara selatan cenderung menjadi pihak yang ”hanya” menyediakan resource bagi negara – negara utara, dan menjadi pasar yang besar bagi negara – negara utara tersebut. Kegiatan – kegiatan wirausaha domestik di negara – negara selatan cenderung tidak dapat bersaing dengan kekuatan modal dan efektifitas perusahaan – perusahaan multinasional yang berasal dari negara – negara maju. Di sini, dapat kita lihat ketidaksimetrisan posisi antara negara – negara Utara dan negara – negara Selatan. Negara – negara utara cenderung menjadi negara yang mendominasi perekonomian, dan negara negara selatan menjadi subordinat dari negara – negara utara tersebut. Struktrur dependensia tersebut merupakan hal yang sekarang banyak ditekankan oleh negara – negara selatan untuk dirombak demi berkembangnya perekonomian mereka.

Berbeda dari pandangan di atas, kaum liberal ortodoks percaya bahwa hubungan Utara – Selatan justru menyediakan  lebih  banyak keuntungan bagi negara Selatan dibanding negara Utara.[6] Menurut kaum liberal tersebut, permasalahan ekonomi disebabkan kebijakan dalam negeri yang tidak efisien dan bukannya karena posisi mereka dalam perekonomian global yang bersifat dependen. Kebijakan ekonomi terbuka yang diterapkan justru akan meningkatkan hubungan mereka dengan negara Utara dan dengan begitu akan lebih berhasil dalam pembangunan  mereka. Kaum liberal intervensionis, tidak seperti kaum liberal ortodoks yang percaya pada kesetaraan perlakuan bagi negara Utara dan Selatan dalam sebuah pasar terbuka, menyarankan bahwa negara Utara harus mempertimbangkan kebutuhan – kebutuhan spesial bagi negara Selatan.[7]

Dapat disimpulkan bahwa, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa kondisi sistem ekonomi internasional saat ini sesuai dengan yang telah dijabarkan di atas masih bersifat anarki sekaligus interdependen, seperti apa yang dikatakan Papp dalam tulisannya ini. Hal itu dapat kita lihat dari persaingan antar negara itu sendiri untuk memperoleh kekuatan ekonomi yang besar, dan di saat yang sama, tetap terus bekerja sama demi kepentingan mereka masing – masing. Setidaknya hal itu terlihat dari hubungan negara – negara Utara dan Selatan.


[1] R.J. Barry Jones, Globalization and Interdependence In The International Political Economy, (Pinter Publishers, 1995),  94.

[2] Ibid., 21.

[3] Ibid., 210.

[4] Ibid., 94

[5] Ibid., 95

[6] Theodore H. Cohn, Global Political Economy : Theory and Practice, ed ke-4 (Pearson Education, 2008), 326.

[7] Ibid., 327.

MACHIAVELLINISME VS NEOREALISME

•July 14, 2009 • Leave a Comment

Pemikiran – pemikiran politik Machiavelli merupakan dasar dari tradisi politik realisme modern. Meski begitu, para pemikir neorealisme semakin melupakan bahwa paradigma mereka berasal dari pemikiran Machiavelli. Padahal, seperti yang diargumenkan Markus Fischer dalam artikel ini, doktrin Machiavelli tersebut merupakan pondasi dari perspektif realisme dalam ilmu hubungan internasional. Politik luar negeri memang menjadi pusat dari teori Machiavelli mengenai sifat dasar manusia dan kehidupan politik yang terjadi akibat sifat manusia tersebut.

Dalam pandangan Machiavelli, kehidupan manusia merupakan ”perjuangan untuk mendominasi satu sama lain” (struggle for domination). Hal utama yang paling penting untuk mencapai tujuan itu adalah kekuatan. Pihak yang terbaik akan mendapatkan kekayaan, keagungan, dan kemenangan. Tidak ada obligasi moral yang perlu dipertimbangkan dalam mencapai tujuan ini. Seperti klaim Machiavelli dalam bukunya yang kontroversial, Il Principle, seorang pemimpin, untuk bisa mengatur dan mengantar negaranya menuju kejayaan, harus dapat bertindak melawan agama, kemanusiaan, dan kepercayaannya. Seorang pemimpin harus belajar untuk tidak menjadi baik, ketika memang harus melakukan itu.

Menurut Machiavelli, ada dua sifat dasar manusia yang membentuk kehidupan politik seperti itu, yaitu sifat ambisius dan egois atau sifat pertama, serta sifat untuk bekerja sama atau sifat kedua. Kedua sifat inilah yang akan membentuk unit – unit politik eksklusif seperti negara-kota, kerajaan, dan negara. Kedua sifat ini pula yang akan mendorong unit – unit politik tersebut untuk saling berperang, berekspansi, membentuk aliansi, dan menaklukkan satu sama lain dalam kondisi tidak adanya satu otoritas sentral, sebuah anarki.

Machiavelli mengklaim bahwa negara seharusnya diorganisasikan untuk berperang, dan hal utama yang harus dikembangkan adalah  kekuatan militer. Tujuan utama domestic order, termasuk upaya – upaya mensejahterakan kota – kota dan penduduknya, adalah pengembangan militer.

Institusi asing yang dapat mensubordinasikan unit – unit politik tersebut dalam beberapa kewenangan, menurut Machiavelli, merupakan hal yang sangat sulit terjadi, dikarenakan sifat pertama manusia tersebut. Dia menerima kemungkinan itu hanya bagi negara – negara yang pemimpinnya memiliki sifat kedua sebagai sifat dominan.

Teori Machiavelli tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar pada neorealisme. Melalui teori tersebut, munculnya unit – unit politik eksklusif seperti negara dan pertanyaan – pertanyaan fundamental lain dapat dijelaskan, sebuah hal yang tidak bisa dilakukan oleh para pemikir neorealisme murni. Perbedaan lain yang cukup tajam antara para pemikir neorealisme dan Machiavelli mencakup masalah deterens, balance of power, dan institusi – institusi antar pemerintah.

Secara umum, dapat kita lihat bahwa pandangan – pandangan Machiavelli memang merupakan dasar dari pandangan neorealisme (realisme modern). Seperti yang dikemukakan Viotti dan Kauppi, aktor utama dalam paham realis adalah negara, sedangkan aktor lain seperti perusahaan multinasional dan organisasi transnasional tidak begitu penting[1]. Hal yang sama juga dapat kita simpulkan dari pemikiran Machiavelli. Para pemikir realis juga menempatkan keamanan sebagai prioritas utama masing – masing negara dalam ketiadaannya sebuah otoritas tunggal[2]. Logika yang menjelaskan hal itu dapat dilihat dari filosofi Machiavelli mengenai sifat dasar manusia, yaitu ambisius, egois, dan berusaha mendominasi satu sama lain. Filosofi tersebut berimplikasi pada kondisi kehidupan antar negara yang harus selalu bersiaga untuk perang. Hal ini disimpulkan mengingat negara yang diorganisasikan dari dan untuk memenuhi sifat dasar manusia tersebut. Sebagai akibat dari state of war dan struggle for domination ini pula, Machiavelli menganggap bahwa kekuatan (power) merupakan hal utama yang harus dimiliki masing – masing negara, suatu hal yang dijadikan konsep inti oleh para pemikir realisme modern.

Namun, ada beberapa poin yang menjadi perbedaan penting antara Machiavellinian dan neorealis. Hal pertama yang akan penulis tunjukkan adalah perbedaan mengenai sumber – sumber kekuatan. Seperti yang dijelaskan di atas, Machiavelli menekankan bahwa hal utama yang menjadi modal dalam perjuangan mencapai dominasi adalah kekuatan militer. Segala sesuatu dalam negara diorganisasikan untuk perang, termasuk juga usaha – usaha untuk mensejahterakan masyarakat. Perekonomian tidak dimasukkan sebagai modal utama seperti yang dikemukakan Machiavelli terkait dengan perang Peloponnesia ”…. the counsel and good soldiers of Sparta were worth more than the industry and the money of Athens” (Discourses 2.10.3).  Hal yang berbeda dikemukakan dalam buku yang ditulis Viotti dan Kauppi. Di antara para realis sendiri tidak ada kesepakatan mengenai definisi kekuatan, namun secara umum mereka berpendapat bahwa kekuatan tidak hanya terbatas pada kekuatan militer, termasuk perekonomian, teknologi, maupun kekuatan relatif seperti anggapan segolongan realis.[3]

Perbedaan ini dapat dianalisis dari perbedaan ideologi yang cukup mendasar antara Machiavelli dan neorealis. Machiavelli hidup di abad 14-an, di mana paham Merkantilisme yang menekankan peran negara yang sangat besar dalam perekonomian. Implikasi dari peran negara ini adalah penggunaan kekuatan militer untuk mendominasi negara lain demi mendatangkan kekayaan bagi negara induk sangat mendominasi negara Eropa. Hal utama yang mendatangkan kekayaan bagi negara induk adalah kekuatan militernya yang ditakuti. Neorealisme sendiri muncul di masa kapitalisme berkembang pesat, di mana dominasi di negara lain dilakukan melalui kekuatan ekonomi para pemilik modal, sehingga negara yang didominasi menjadi tergantung oleh negara kapital tersebut. Kapitalisme sendiri sangat bergantung pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan kekuatan militer sendiri akhirnya bergantung juga pada kemampuan ekonomi dan teknologi. Hal ini menyebabkan kekuatan (power) yang penting bukan lagi hanya militer, tapi juga ekonomi, teknologi, dan aspek – aspek lain untuk perjuangan mencapai dominasi di masa modern ini.

Hal ini seperti yang dikemukakan Joseph S. Nye, bahwa sumber – sumber kekuatan tidak pernah statis, melainkan terus berubah sesuai perkembangan zaman.[4] Contoh dari perubahan sumber kekuatan ini, pada abad ke-16, sumber kekuatan Spanyol yang merupakan leading state saat itu adalah kekuatan militer, ikatan kerajaan dan perdagangan kolonial. Hal yang berbeda terlihat pada leading state saat ini, yaitu Amerika Serikat, di mana kekuatannya terletak pada economic scale, ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir, budaya yang universal, kekuatan militer, dan nilai – nilai demokrasi dan liberalisme.[5]

Perbedaaan penting lain terletak pada pendapat Machiavelli dan neorealis mengenai dilema keamanan, deterens dan balance of power. Machiavelli menegaskan bahwa suatu kondisi di mana suatu negara tidak akan menyerang negara lain karena kalkulasi kerugian yang didapat melebihi keuntungan yang didapatkan dari serangan tersebut, atau dalam kata lain sebuah deterens, adalah nyaris tidak mungkin. Suatu negara hampir tidak mungkin mengatur kekuatan militernya sedemikian rupa sehingga cukup besar untuk menggertak negara lain agar tidak menyerangnya, namun juga tidak cukup besar untuk disadari sebagai sebuah ancaman. Kalaupun bisa dilakukan, maka hal itu hanya akan membuat negara tersebut menjadi lebih rentan lagi terhadap negara yang semakin kuat di masa mendatang. Hal yang kontras dikemukakan oleh para neorealis. Kenneth Waltz, salah satunya, justru mengemukakan bahwa suatu negara harus mengambil jalan tengah itu, agar tidak dianggap lemah maupun dianggap sebagai suatu ancaman. Menurut Waltz, dalam konteks penggunaan senjata nuklir, suatu negara tidak perlu mengembangkan suatu kekuatan militer konvensional yang sangat besar untuk meyakinkan penyerang bahwa biaya untuk menyerang negara tersebut sangat besar; yang diperlukan adalah untuk meyakinkan penyerang bahwa resiko untuk mendapatkan kehancuran yang besar secara cepat di wilayahnya terlalu beresiko.[6]

Perbedaan ini mengenai masalah deterens ini akan memicu perbedaan pendapat lain yaitu balance of power. Machiavelli berpendapat bahwa di suatu masa pastinya akan ada suatu negara yang akan menjadi sebuah encompassing empire, suatu negara terkuat yang akan mendominasi kehidupan seluruh negara lain pada suatu masa, seperti Romawi pada masanya. Kontras dengan pendapat itu, para neorealis selalu berpendapat bahwa persaingan untuk saling mendominasi dalam sistem internasional selalu akan memicu terjadinya suatu keseimbangan kekuatan, baik dalam bentuk dwipolar maupun multipolar. Konsep balance of power ini dapat diartikan sebagai 3 hal yang berbeda, yaitu distribusi kekuatan, sebuah kebijakan, dan juga sebuah sistem multipolar.[7]

Meskipun  deterens dan  balance of power merupakan 2 konsep yang berbeda, namun kita dapat menganalisis hubungan antara pendapat Machiavellinian dan neorealis mengenai dua masalah ini. Machiavelli, seperti dikatakan di atas, menolak sebuah ”jalan tengah” dengan menjadi tidak terlalu lemah namun juga tidak dianggap sebagai ancaman. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, sebuah state of war yang sangat mendominasi kehidupan, di mana perang tidak terhindarkan, dan yang terkuatlah yang akan mendominasi kehidupan seluruh negara. Ini menjelaskan mengenai adanya encompassing empire yang telah dijelaskan Machiavelli di atas, dengan contoh yang sangat jelas yaitu kerajaan Romawi di masanya.

Logika yang sama juga dapat digunakan untuk menganalisis pendapat neorealis mengenai masalah ini. Menurut neorealis, deterens dimungkinkan untuk dilakukan. Suatu negara tidak akan serta merta menyerang negara lain jika kalkulasi kerugian diperkirakan melebihi hasil yang didapatkan, terutama karena second strike capabilities yang dimiliki negara target. Maka, jika suatu negara meningkatkan kekuatan militernya, negara lain cenderung akan meningkatkan kekuatan militernya juga untuk menyeimbangkan kekuatan dan mengantisipasi serangan di masa depan. Suatu negara juga akan menahan diri melakukan serangan, karena jika dia melakukannya dan memperoleh kemenangan, maka negara lain akan meningkatkan kewaspadaannya terhadap negara tersebut dengan meningkatkan kekuatan milternya sehingga negara tersebut akan lebih rawan diserang di masa mendatang. Kondisi deterens inilah yang akan memicu balance of power, yang bersifat alami sesuai dengan definisi pertama balance of power, yaitu distribusi kekuatan. Selanjutnya, sebagai sebuah strategi, maka masing – masing negara akan mengembangkan balance of power ini sebagai sebuah kebijakan, di antaranya dengan membentuk aliansi atau pakta pertahanan. Contoh dari balance of power ini adalah ketika Inggris membentuk aliansi dengan Prancis untuk menjadi penyeimbang bagi kekuatan Jerman di Eropa yang semakin meningkat pada tahun 1904.[8]

Dapat disimpulkan bahwa pemikiran – pemikiran Machiavelli memang merupakan pondasi yang dapat menjelaskan asumsi asumsi utama realisme modern. Namun, seiring dengan perubahan zaman, ada beberapa konsep dan pemikiran yang harus direvisi lagi, meskipun hal itu tidak menghilangkan dasar – dasar filosofis neorealisme yang diletakkan Machiavellinisme.


[1] Paul R. Viotti dan Mark V. Kauppi, International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalim, ed. ke-2 ( ) , 35

[2] Ibid., 36

[3] Ibid., 44

[4] Joseph S. Nye, Jr, Understanding International Conflicts: An Introduction To Theory And History, (HyperCollins College Publishers, 1993) , 53.

[5] Viotti dan Kauppi, op. Cit., 52

[6] James E. Dougherty dan Robert L. Pfaltzgraff, Jr., Contending Theories of International Relations: A Comprehensive Survey, ed. Ke-4 (Longman, 1997) ,  377

[7] Nye, op. cit., 53-56

[8] Ibid., 61

Economy For Dummies#1: Trickle Down Effect

•July 14, 2009 • 1 Comment

Hai Lads! Nampaknya lama banget ya nunggu tulisan kedua gw, kayak nunggu album baru Dashboard Confessional.hehe.

Seri tulisan ini saya sebut “For Dummies”. Kenapa? Karena sasaran dari tulisan ini memang orang awam yang masih alien atau paling tidak belum terlalu mengerti dengan apa yang dibahas di sini. Ini bukan tulisan penuh dengan kata – kata canggih nan tinggi maupun penjabaran ilmiah khas akademisi. Ini cuma sekedar tulisan agar para masyarakat bisa mengenal, paling tidak permukaannya, berbagai istilah dan fenomena dalam bidang ekonomi, politik, budaya, dan militer menyangkut masalah yang kita hadapi sekarang. Tulisan ini dibuat sesimpel mungkin agar ”membumi” (dan juga karena saya ga sanggup bikin yang berat – berat…haha). Kenapa bukan ”For Amateur”? Soalnya buat sekalian promosi rencana temen gw yang mau bikin buku ”Politic For Dummies”.hahaha. Bukannya saya merasa super mengerti dengan berbagai permasalahan yang akan dibahas, namun berbagi pemahaman sedikit tidak ada salahnya, kan?

Di seri ”Economic For Dummies” yang pertama ini, saya ingin menulis tentang Trickle Down Effect (dalam konteksnya dengan pembangunan ekonomi, karena istilah Trickle Down Effect juga ada dalam dunia marketing). Sering mendengar makanan yang satu ini? Meskipun Cuma sekali seumur hidup, saya yakin kalian semua pernah mendengar kata ini. Merasa belum pernah dengar? Coba ingat – ingat lagi, pasti kalian cuma lupa. Kenapa? Karena pada dasarnya pembangunan ekonomi di Indonesia, sejak zaman Orde Baru, berbasiskan pada kebijakan ini.Begitu juga dengan pembangunan ekonomi di banyak negara lain. Apa sih, yang dimaksud dengan Trickle Down Effect ini?

Perumpamaannya begini; misalnya anda berjalan – jalan ke sebuah tebing, dan ketika anda melongok ke bawah, anda melihat ada 3 orang yang terikat di tali dan menempel di tebing, kelelahan dan tidak sanggup meneruskan panjat tebing mereka. Anda berinisiatif menolong mereka, dan anda memutuskan untuk menolong pemanjat yang tertinggi untuk anda tolong terlebih dahulu dan untuk selanjutnya akan berharap bahwa dia akan membantu anda menolong dua orang lainnya. Tolong yang lebih tinggi lebih dulu, dan yang posisinya lebih rendah bisa diangkat nantinya.

Di atas adalah perumpamaannya, dan beginilah penyederhanaan kebijakan Trickle Down Effect: Bayangkan, anda adalah seorang kepala klan dengan tanggungan sekitar 5000 orang. Klan anda secara umum merupakan orang – orang pengangguran miskin, dengan sedikit orang yang memiliki harta lebih dibanding yang lain dan memiliki bisnis yang lumayan, namun lapangan kerja yang dihasilkan belum cukup untuk menyerap seluruh orang di desa tersebut. Kebetulan anda baru diangkat dan memiliki sejumlah emas warisan dari ayah anda, ketua klan yang mangkat. Anda ingin mensejahterakan seluruh anggota klan anda, namun anda merasa bahwa harta yang anda miliki tentunya tidak akan efektif jika harus dipinjamkan (apalagi dibagikan) untuk seluruh anggota klan agar mereka semua dapat memulai sebuah wirausaha, karena jumlah yang diterima warga akan sedikit dan belum tentu para warga akan mampu secara efektif mengelola emas tersebut. Lalu anda berpikir untuk menguatkan bisnis sejumlah orang berkecukupan yang sudah ada agar mereka bisa memperbesar usaha mereka, melakukan ekspansi bisnis, menyerap lebih banyak tenaga kerja dan memicu timbulnya bentuk wirausaha lain. Anda berharap bahwa dengan begitu roda perekonomian dapat berputar lebih kencang. Inilah yang disebut dengan Trickle Down Effect, di mana kenaikan kapasitas atau kemampuan ekonomi orang – orang kaya akan menggulirkan (Trickle Down) peningkatan kesejahteraan pula pada kalangan menengah ke bawah.

Istilah Trickle Down Effect pertama kali dikeluarkan oleh Ronald Reagen dalam suatu pidato pada Januari 1981 di mana dia mengumumkan pemotongan pajak besar – besaran bagi orang – orang kaya, suatu keistimewaan yang dia klaim akan “merembes” ke seluruh rakyat.Dalam ecyclopediaofmarxism.com dijelaskan bahwa “The trickle-down effect is a now-discredited theory of distribution which holds that the concentration of wealth in a few hands benefits the poor as the wealth necessarily “trickles down” to them, mainly through employment generated by the demand for personal services and as a result of investments made by the wealthy.“Kebijakan Trickle Down Effect menempatkan orang berpunya sebagai ujung tanduk pembangunan perekonomian. Kapasitas ekonomi mereka ditingkatkan, dengan memberikan kemudahan pendanaan, membangun sarana dan infrastruktur untuk mendukung bisnis mereka, memberikan kemudahan pajak dan perizinan, dll. Seperti yang ditulis di salah satu blog (maaf ya, lupa nyimpen urlnya, jadi lupa penulisnya,hehe) ” Dengan dibukanya akses dan pendanaan secara menyeluruh terhadap segala aktivistas maka investasi domestik diharapkan akan berjalan dan berlipat dengan semakin gencarnya fokus pada sektor bisnis infrastruktur serta pasar keuangan sehingga pada gilirannya skema ini akan menciptakan sebuah struktur kapasitas produksi yang meningkat. Produksi yang menggeliat akan menggiring harga-harga pada tingkat yang lebih rendah dan menciptakan lapangan kerja untuk para kelas menengah dan menengah kebawah.”

Yap, di atas merupakan konsepsi ideal dari Trickle Down Effect. Jika betul – betul berjalan sesuai dengan konsepsi ideal tersebut, maka seharusnya pembangunan ekonomi yang berjalan dengan mengupayakan Trickle Down Effect tersebut seharusnya bisa membawa kemakmuran. Tapi, mengapa kondisi nyatanya belum seperti itu, seperti yang kita lihat di Indonesia? Mari balik lagi pada perumpamaan di atas: Katakanlah, anda telah berhasil menarik orang paling tinggi dalam panjat tebing tersebut, atau dalam kata lain, orang yang terdekat dengan anda. Harapan anda, setelah dia berhasil ditarik, maka dia akan turut membantu menarik orang yang masih ada di bawah. Namun, ternyata orang itu menolak untuk membantu menarik orang yang ada di bawah, dan malah berleha – leha sendiri. Maka jadilah anda sendiri yang harus menarik orang yang masih ada di bawah. Cukup menyusahkan, bukan?

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam kasus perumpamaan di atas. Setelah anda memberikan berbagai bantuan pinjaman pada orang – orang yang berpunya di desa anda, kaum berpunya tersebut alih – alih turut membangun desanya melalui bisnis mereka, malah berinvestasi di desa sebelah, yang dianggap lebih makmur, prospektif, dan menjanjikan keuntungan lebih. Jadilah orang – orang kaya tersebut semakin kaya, dan orang – orang miskin tetap terpuruk. Pembangunan desa gagal dijalankan.

Nah, sudah cukup mengerti bukan? Kegagalan pembangunan ekonomi yang memanfaatkan Trickle Down Effect berhulu pada kalkulasi untung rugi orang kaya tersebut. Secara alamiah, mereka akan menghindari untuk menanamkan modal pada negara yang kurang makmur dan prospektif, dan lebih cenderung untuk berinvestasi di negara – negara kaya. Jika melihat kondisi perekonomian dalam negeri tidak kondusif, tidak profitable, maka mereka akan mengalihkan kekayaan mereka untuk diinvestasikan di luar negeri.  Tidak tahu terima kasih dan nasionalis? Uang tidak perlu berterima kasih dan tidak mengenal nasionalisme kawan! Ini masih terkait dengan dengan teori dependensi dalam konfigurasi sistem internasional (belum tahu teori dependensi? akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya….)

Di Indonesia, pembangunan yang berusaha memanfaatkan Trickle Down Effect sudah berusaha dilakukan sejak masa Orde Baru. Pada masa OrBa,  haluan politik luar negeri Orde Lama yang revolusioner, anti-imperialisme bersifat sangat konfrontatif diubah menjadi apa yang disebut sebagai “diplomasi pembangunan” yang bersifat kooperatif dengan negara – negara Barat. Tujuan utamanya adalah untuk mencari bantuan luar negeri untuk pembangunan ekonomi. Berdasarkan blueprint pembangunan yang dibuat oleh para teknokrat, dan yang juga merupakan resep pembangunan dari berbagai Lembaga bantuan asing, bantuan dana tersebut digunakan untuk memperkuat basis bisnis berbagai perusahaan dan konglomerasi yang sudah ada. Tujuannya, tentu untuk menghasilkan Trickle Down Effect yang sudah dijelaskan di atas.  Namun, meski secara makro kinerja ekonomi kita terlihat sangat impresif, namun pada kenyataannya kesenjangan antara golongan kaya dan golongan miskin semakin meningkat. Kenapa hal ini terjadi? Karena Trickle Down Effect yang diharapkan tidak berlangsung sempurna. Kekayaan golongan berpunya terus mengalir ke luar negeri, dan semakin memperkaya golongan tersebut. Golongan miskin yang mempunyai akses terbatas terhadap modal dan teknologi semakin tertinggal. Vonis umum menyatakan bahwa akar dari segala akar permasalahan adalah korupsi. Korupsi memang amoral, namun bukan dampak secara langsung yang menghancurkan perekonomian, seperti yang diargumenkan dalam blog yang menjadi rujukan saya, “Korupsi memang melanggar batas norma, sebagaimana korupsi memang memuakkan. Premis ini berujung pada kesimpulan bahwa korupsi mengkerdilkan pembangunan. Anggapan ini boleh jadi benar apabila hasil korupsi mengalir keluar negeri, akan tetapi akan beda hasilnya jika harta hasil korupsi diinvetasikan ke dalam negeri. Hal ini sejalan dengan asumsi yang telah dijabarkan panjang lebar diatas mengenai sker ide trickle down effect yaitu investasi domestik.” Hal ini bukan berarti kita menjustifikas korupsi, namun adalah salah apabila usaha untuk meningkatkan perekonomian hanyalah dengan memberantas korupsi.

Karena kekayaan yang semakin mengalir ke golongan berpunya, maka kebijakan Trickle Down Effect dianggap pro status quo, atau menopang sesuatu yang sudah kuat dan berkuasa. Trickle Down Effect banyak diserang, terutama oleh kalangan sosialis dan penganut Post Development, dan dianggap tidak pro rakyat miskin.

Demikian itu adalah sebuah penjelasan sederhana mengenai Trickle Down Effect. Jika dianggap mewakili suatu ideologi ekonomi tertentu, yah, kebebasan anda. Yang jelas, saya tidak dengan ekstrem menganut satu ideologi ekonomi tertentu, hal terpenting adalah seluruh rakyat sejahtera. Trickle Down Effect ini pun mempunyai kelogisannya sendiri. Pokoknya, gitu dah!hehe. See ya at the next series. =D

Mari Kembali Jadi Anak Kecil!

•March 26, 2009 • 1 Comment

haha. berkali – kali bikin blog, lupa mulu buat ngurusin, dan akhirnya lupa passwordnya.semoga yang ini nggak. amin.

Saya ingin mengisi post pertama dengan kenangan masa kecil. Ya!Masa Kecil! Bagi orang dewasa seperti kita, anak kecil hanyalah anak – anak lucu dengan tindakan yang belum rasional.  Dan memang begitu. Tapi, justru ketidakrasionalan ini yang membuat segalanya menjadi indah. Ketidaktahuan, keingintahuan, dua hal ini yang mendominasi masa kecil kita.

Mungkin anda ingat bagaimana rasanya anda pertama kali melihat, bahkan memegang suatu benda biasa, seperti komputer? pernahkah anda merasa terkesima dengan bagaimana pensil bisa menjadi lancip setelah diserut? atauingatkah anda bagimana rasanya pertama kali menggunakan telepon? atau berpikir bahwa “benda yang paling ajaib adalah televisi? Pernahkah anda merasa betul – betul terkesima dengan rintik hujan, dan ingatkah bagaimana perasaan pertama anda ketika pertama kali melihat hujan dengan langit yang masih cerah? Atau masih ingat bagaimana rasanya mengetik pertama kali, diprint, dan anda merasa sangat bangga dengan itu? Atau mungkin masih ingat bagaimana anda melihat presiden di televisi dan dengan mudahnya anda mengatakan “SAYA INGIN MENJADI PRESIDEN!”?Atau mungkin ada yang begitu terobsesinya anda pada suatu tokoh pahlawan super sehingga anda bermimpi untuk menciptakan suatu peralatan yang dapat menjadikan anda sekuat dia, dan kemudian menyelamatkan bumi?

Saya ingat itu semua, sangat ingat. Romantisme masa kecil. Seluruh dunia adalah tempat bermain, karena seluruh dunia adalah sesuatu yang baru. Saya ingat sekali waktu kecil saya sangat doyan bermain ke kantor RW, karena di dekat situ ada sebuah replika kecil sebuah helikopter. Jika ingat betapa terkesimanya saya dulu, dan membandingkannya dengan perasaan datar sekarang, berasa lucu juga. Inilah yang orang biasa sebut perkembangan menuju kedewasaan. Semakin banyak kita tahu, semakin dingin kita menghadapi keajaiban dunia sekitar.

Lucunya juga adalah, semakin banyak kita mengerti tentang dunia, dan semakin kuat kita, maka semakin skeptis kita menghadapi dunia. Semakin kita menyadari batasan – batasan alami yang ada di dunia, dan semakin kita cenderung menyerah karenanya. Misalnya, contoh sederhana, seorang yang cacat diyakini tidak akan bisa mandiri, dan akan selalu tergantung dengan orang lain. Atau zaman dahulu, di mana orang yang mengatakan mengenai perjalanan ke luar angkasa akan dianggap orang gila. And so on, and so on….

Orang menganggap bahwa inilah rasio, kemampuan menentukan apa yang dianggap mungkin dan tidak mungkin dilakukan.  Orang bilang bahwa inilah attribute utama manusia. Pada kenyataannya, persepsi mayarakat secara umumlah yang akan membentuk rasio kita.  Orang yang berusaha melewati batas – batas rasio (yang dianut masyarakat secara umum) ini, seperti yang kita tahu, akan dianggap sebagai orang gila…

Bisa anda bayangkan jika SEMUA manusia dewasa menganut jalan berpikir seperti ini? Tentu saja: peradaban yang stuck. Tidak akan ada perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak akan ada inovasi. Tidak akan ada jalan untuk memecahkan banyak permasalahan manusia.

Beruntunglah kita, di setiap masa, selalu ada orang yang tidak pernah kehilangan rasa keingintahuannya. Mereka orang – orang yang selalu merasa tidak tahu. Mereka tidak terlalu ambil peduli tentang batasan rasio yang dianut umum oleh masyarakat mereka. Mereka tidak takut dianggap aneh. Mulai dari bagaimana mereka menyodorkan sejumlah teori yang mencoba menerangkan banyak hal di dunia, melakukan eksperimen, membentuk kesimpulan, melakukan eksperimen ulang lagi untuk merecheck kesimpulan sebelumnya, dan seterusnya, merupakan proses – proses untuk menembus batasan rasio umum. Dari pengembangan ilmu pengetahuan itu, jadilah masyarakat modern yang terus berkembang.

Ya, jiwa anak kecil yang terdapat dalam diri para ilmuwan. Berkat jiwa inilah, Eropa bisa lepas dari Dark Age dan masuk ke zaman Renaissance. tidak bermimpi menciptakan alat tersebut. Kita masih akan menggunakan obor untuk penerangan jika Thomas Alpha Edison berhenti pada eksperimennya yang ke 9999. Kita masih akan berpikir bahwa bumi pusat alam semesta jika Galileo menyerah pada tekanan banyak pihak yang menyuruhnya untuk tidak membantah dogma yang sudah berlaku umum. Manusia tidak akan pernah mencapai ruang hampa di luar angkasa, apalagi menginjak bulan, jika para ilmuwannya menyerah pada rasio umum bahwa hal semacam itu tidak mungkin dilakukan.  Manusia akan terus dikungkung tiranisme jika tidak ada orang seperti Rousseau yang mengajukan konsep Kontrak Sosial. Tidak akan ada konsep pemerintahan terbatas jika para pemikir Liberal tidak mempertanyakan kewenangan yang seharusnya dipegang negara.  Dan juga sebaliknya, tidak akan ada yang mempertanyakan mengenai penindasan terhadap kaum yang lemah secara modal oleh kaum kapitalis dan peran negara terhadap kesejahteraan rakyatnya jika para pemikir sosialis tidak mempertanyakan tatanan baru yang terbentuk akibat menyebarnya kapitalisme.

Saya sangat setuju dengan suatu kalimat yang mengatakan bahwa Ilmuwan Sejati Adalah Anak Kecil. Jiwa polos dari seorang anak kecil dan ketidaktahuaannya itulah yang membuat dia menjadi seorang ilmuwan sejati. Rasa keingintahuan ini juga yang harus terus dipupuk sampai dewasa. Jangan terlalu cepat menyerah dengan segala keterbatasan. Jangan begitu saja menerima apa yang disebut lingkungan sekitar anda sebagai “akal sehat”. Dobraklah batasan – batasan dunia. Temukan hal – hal baru dan kebijaksanaan baru. Jadilah anak kecil kembali…………

Hello world!

•March 24, 2009 • 2 Comments

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.